Oleh Dr. H. ABD. KADIR, M.Pd.
Pengurus LPBI NU Sumenep
Sumenep, Relasijatim.com – Dalam sebuah diskusi sederhana dengan teman-teman pengurus Lembaga Penanggulangan Bencanan dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Sumenep, sebenarnya dari awal tidak ada agenda untuk melakukan kegiatan sosialisasi dan edukasi kebencanaan kepada pelajar.
Hanya saja, karena saat itu (pertengahan bulan September) LPBI NU dihadapkan pada momentum Hari Santri Nasional tahun 2026, percakapan tentang beberapa program yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat yang bisa dijadikan rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional semakin mengerucut pada program yang memungkinkan dilaksanakan dengan persiapan yang cukup singkat.
Dari sinilah muncul ide untuk melaksanakan edukasi kebencanaan kepada pelajar. Bagi saya, edukasi kepada pelajar sudah banyak dilakukan oleh BPBD Kab. Sumenep. Ada program Sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) ke sekolah-sekolah dengan program ”BPBD goes to school”. Hal ini telah menjadi program yang memang dilaksanakan setiap tahun oleh BPBD Sumenep. Bahkan, tidak hanya ke sekolah-sekolah, bahkan ada sosialisasi ke lembaga-lembaga selain sekolah seperti puskesmas, rumah tahanan negara, perbankan, kampus, pondok pesantren dan lainnya yang memang memerlukan edukasi kebencanaan ini.
Sebenarnya, setiap sekolah sangatlah membutuhkan edukasi ini. Mengapa? Karena edukasi secara masif terkait kebencanaan memang perlu dipahami oleh para pelajar dari jenjang PAUD sampai perguruan tinggi.
Diakui bahwa Kabupaten Sumenep, dengan wilayah yang membentang dari daratan hingga ratusan pulau kecil, menghadapi berbagai potensi ancaman bencana, mulai dari cuaca ekstrem, angin puting beliung, kekeringan, hingga risiko gempa bumi dan bencana pesisir. Dalam situasi darurat, anak-anak dan pelajar sering kali menjadi kelompok yang paling rentan. Sekolah atau madrasah yang seharusnya menjadi ruang aman kerap kali justru berubah menjadi potensi ancaman apabila bangunan, sistem, dan penghuninya tidak memiliki kesiapsiagaan yang memadai. Bahkan, ketika akan dilakukan akreditasi sekolah, salah satu syarat sertifikat edukasi kebencanaan juga memiliki nilai tersendiri untuk menambah poin penilaian yang ada.
Bisa dilihat dari Data Referensi Kemdikdasmen 2026, bahwa jumlah sekolah di Kabupaten Sumenep mulai PAUD sampai SMA/SMK ada 1.485 lembaga (PAUD/TK: 494, SD: 636, SMP: 198, SMA: 82, SMK: 75). Sementara, jumlah madrasah mulai jenjang RA sampai MA ada 1.612 lembaga (RA: 534, MI: 566, MTs: 342, dan MA: 170).
Artinya, bahwa ketika masivitas edukasi ini akan dilaksanakan untuk semua lembaga pendidikan, maka butuh waktu yang cukup lama. Apalagi, ketika hanya dibebankan kepada BPBD Sumenep, maka butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menjangkau seluruh sekolah yang ada. Maka, berangkat dari realitas tersebut, LPBI NU Sumenep mencetuskan sebuah inovasi strategis bertajuk Madrasah Aman Bencana (MABANA). Program ini dirancang untuk menanamkan budaya sadar bencana sejak dini sekaligus membangun resiliensi (ketangguhan) berbasis lingkungan madrasah (karena fokusnya memang madrasah).
Di sini LPBI NU menggandeng Kemenag Sumenep dan BPBD Kabupaten Sumenep untuk bersinergi dan berkolaborasi, masuk ke madrasah-madrasah yang ada Sumenep dalam melakukan edukasi kebencanaan.
Launching program ini dilaksanakan di MAN Sumenep pada tanggal 9 Oktober 2026. Realitas ini menandai dimulainya program MABANA yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional 2026.
MABANA bukan sekadar kegiatan sosialisasi biasa, melainkan sebuah pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek edukasi, kelembagaan, dan budaya lokal. Di daerah seperti Sumenep, madrasah dan pondok pesantren memegang peranan kunci sebagai pusat pendidikan moral dan intelektual masyarakat. Menggabungkan literasi pengurangan risiko bencana (PRB) ke dalam ekosistem madrasah merupakan langkah taktis yang sangat efektif.
Resiliensi di kalangan pelajar tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui serangkaian pemahaman dan kebiasaan yang dipraktikkan secara konsisten. MABANA hadir untuk mengikis paradigma penanganan bencana yang berfokus pada post-disaster response (respons pascabencana) menjadi pendekatan prevention and preparedness (pencegahan dan kesiapsiagaan). Pelajar disadarkan bahwa bencana memang tidak bisa dicegah sepenuhnya, namun dampak buruk dan risiko jatuhnya korban jiwa dapat diminimalkan jika setiap individu mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum, pada saat, dan sesudah bencana terjadi.
Dalam implementasinya, MABANA mendorong penanaman resiliensi pelajar melalui tiga pilar utama. Pertama, edukasi dan pemetaan risiko mandiri. Melalui MABANA, para siswa diajak untuk mengenali potensi bahaya di sekitarnya. Pelajar tidak hanya diajarkan teori kebencanaan secara umum, tetapi juga dilatih melakukan pemetaan risiko di lingkungan sekolah mereka sendiri. Mereka diajak mengidentifikasi jalur evakuasi, titik kumpul yang aman, hingga potensi bahaya fisik seperti bangunan retak atau kabel listrik yang rawan.
Kedua, simulasi tanggap darurat dan penguatan SOP. Pengetahuan tanpa latihan berkala akan menguap saat situasi krisis terjadi. MABANA menekankan pentingnya latihan simulasi (drill) secara rutin. Pelajar dilatih untuk tidak panik, merunduk, berlindung, dan bergerak secara tertib menuju lokasi aman saat terjadi guncangan atau ancaman lain. Ketika simulasi menjadi refleks alami, rasa cemas dan ketakutan berganti menjadi respon yang terukur dan tenang.
Ketiga, pembentukan kader pelajar tangguh bencana. Salah satu keunggulan MABANA adalah pendekatan partisipatif melalui pembentukan peer educators (kader sebaya).
Pelajar yang dilatih secara khusus diproyeksikan menjadi agen perubahan. Mereka bertugas menyebarkan edukasi kesiapsiagaan tidak hanya kepada teman satu kelas, tetapi juga membawa pesan-pesan mitigasi tersebut ke lingkungan keluarga dan pemukiman mereka masing-masing.
Keberhasilan inovasi MABANA yang digagas oleh LPBI NU Sumenep ini juga didorong oleh kolaborasi yang solid dengan pemangku kepentingan (stakeholders), seperti Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep. Sinergi ini memastikan bahwa panduan teknis keselamatan dan regulasi pendidikan dapat berjalan beriringan.
Selain itu, pendekatan MABANA menyentuh aspek nilai-nilai keagamaan. Integrasi pemahaman bencana dengan ajaran tentang menjaga alam membuat konsep mitigasi bencana terasa dekat dengan keseharian santri dan pelajar di Sumenep. Hal ini menciptakan fondasi moral bahwa menjaga keselamatan diri dan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan dan keagamaan.
Inovasi MABANA yang diinisiasi oleh LPBI NU Sumenep merupakan langkah nyata dalam mencetak generasi muda yang tangguh dan adaptif terhadap ancaman alam. Dengan menanamkan pengetahuan mitigasi, melatih respons cepat, dan menguatkan kapasitas kelembagaan madrasah, MABANA berhasil mengubah pelajar dari sekadar korban potensial menjadi subjek penyelemat mandiri.
Investasi pada pendidikan kesiapsiagaan bencana hari ini adalah jaminan keselamatan dan keberlanjutan masa depan. Melalui MABANA, diharapkan budaya sadar bencana dapat mengakar kuat di Sumenep, membentuk masyarakat yang tidak hanya cerdas secara akademis dan berakhlak mulia, tetapi juga tangguh dan sigap menghadapi tantangan zaman dan dinamika alam. Semoga! (*)








