Sumenep, Relasijatim.com – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kabupaten Sumenep turut menyemarakkan puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 dengan mendirikan stan edukasi di depan Labang Mesem, Sumenep.
Melalui stan tersebut, LPBI NU Sumenep menyosialisasikan sejumlah program yang berkaitan dengan edukasi kebencanaan, kepedulian lingkungan, serta upaya mengurangi risiko bencana di tengah masyarakat.
Beberapa program yang diperkenalkan di antaranya Madrasah Aman Bencana (MABANA), gerakan penyiraman air ke jalan raya pada siang hari untuk membantu mengurangi dampak panas yang dirasakan masyarakat dalam beberapa bulan terakhir, serta imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran.
Ketua LPBI NU Sumenep, Supardi, SHI, mengatakan, keikutsertaan lembaganya dalam puncak HSN 2026 merupakan bentuk nyata kehadiran LPBI NU di tengah masyarakat. Partisipasi tersebut sekaligus menjadi sarana untuk memperkenalkan program-program yang berorientasi pada keselamatan dan kepedulian lingkungan.
“Program-program ini merupakan bentuk bukti bahwa LPBI NU hadir di tengah-tengah masyarakat. Kami ingin masyarakat semakin memahami pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, menjaga lingkungan, dan melakukan langkah pencegahan sejak dini,” kata Supardi, Sabtu (24/10/2026).
Menurutnya, edukasi kebencanaan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat tidak hanya memahami potensi risiko di lingkungannya, tetapi juga mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampaknya.
“Salah satu program yang diperkenalkan adalah MABANA, yang diarahkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan di lingkungan madrasah. Melalui edukasi tersebut, warga madrasah diharapkan memiliki pemahaman mengenai potensi bahaya, langkah penyelamatan, serta tindakan yang tepat ketika terjadi bencana,” paparnya.
Selain itu, LPBI NU Sumenep juga mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran, baik di lingkungan permukiman maupun tempat aktivitas sehari-hari. Upaya pencegahan dinilai penting untuk meminimalkan risiko kerugian dan menjaga keselamatan warga.
“Gerakan penyiraman air ke jalan raya pada siang hari diperkenalkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan saat cuaca panas. Pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan keselamatan pengguna jalan serta ketersediaan air,” terangnya.
Kehadiran stan LPBI NU Sumenep dalam puncak HSN 2026 diharapkan dapat memperluas jangkauan sosialisasi kebencanaan kepada masyarakat. Momentum Hari Santri pun dimanfaatkan tidak hanya sebagai perayaan, tetapi juga sebagai ruang berbagi pengetahuan dan memperkuat pengabdian sosial.
“Melalui berbagai program tersebut, kami berupaya mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa pencegahan dan pengurangan risiko bencana membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat luas,” tukasnya. (ZL)









