Bangkalan, Relasijatim.com – Sebanyak 221 mahasiswa STKIP PGRI Bangkalan, Jawa Timur resmi menyelesaikan pendidikan. Dalam momentum wisuda yang berlangsung di Gedung Rato Ebuh Bangkalan, para lulusan diingatkan untuk terus belajar dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
Ketua STKIP PGRI Bangkalan, Fajar Hidayatullah, M.Pd., mengatakan, wisuda bukan menjadi akhir dari proses belajar. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut para lulusan untuk terus meningkatkan kompetensi serta beradaptasi dengan perubahan.
“Ini bukanlah akhir kalian belajar. Dunia tidak akan pernah tetap, ilmu pengetahuan akan selalu berkembang,” kata Fajar, Kamis (27/8/2026)
Ia mengapresiasi perjuangan para mahasiswa yang telah menempuh pendidikan selama empat tahun. Fajar juga menyampaikan penghargaan kepada orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan selama proses perkuliahan.
“Selama menjalani pendidikan, mahasiswa tidak hanya memperoleh pembelajaran di ruang kelas. Mereka juga mendapatkan pengalaman melalui praktikum, pengabdian kepada masyarakat, serta kegiatan lapangan di berbagai desa,” ucapnya.
Pengalaman tersebut, lanjut Fajar, menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga karakter. Hal itu sejalan dengan penerapan Outcome Based Education (OBE) yang berorientasi pada capaian dan kompetensi lulusan.
“Untuk memperkuat karakter tersebut, kami mengembangkan nilai SINERGI sebagai pedoman bagi mahasiswa dan sivitas akademika,” jelasnya.
Nilai Sinergi pertama yakni kemampuan membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Implementasinya antara lain melalui program KKN dan PLP di Malaysia yang dilaksanakan melalui kerja sama dengan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur.
“Bagi mahasiswa yang bertugas di Malaysia, itu merupakan kesempatan dan pengalaman yang luar biasa,” ujarnya.
Nilai berikutnya adalah Integritas. Para wisudawan agar menjaga kejujuran dan konsistensi dalam menjalankan tanggung jawab, baik ketika berada di dunia kerja maupun saat berkontribusi di tengah masyarakat. Kemudian terdapat nilai Budaya. Para alumni juga diharapkan tetap memahami dan menjaga akar budaya, khususnya budaya Madura, sekaligus memiliki wawasan kebangsaan.
“Harapannya mahasiswa tetap dapat menjelaskan nilai budaya yang mereka miliki, baik secara lokal di Madura maupun secara nasional, sehingga mereka tidak lupa atau kehilangan akar dan asal kehidupannya,” jelasnya.
Selanjutnya adalah Etika. Menurut Fajar, kemampuan akademik perlu berjalan beriringan dengan etika dalam menjalankan profesi maupun berinteraksi dalam kehidupan sosial. Adapun nilai Responsif dinilai semakin penting di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat. Fajar mencontohkan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mulai mengubah berbagai bidang pekerjaan.
“Karena itu, para alumni diminta tidak berhenti mengembangkan pengetahuan dan kemampuan beradaptasi,” harapnya.
Fajar juga menekankan pentingnya nilai Gerakan Berdampak. Alumni STKIP PGRI Bangkalan tidak hanya berorientasi memperoleh pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan manfaat nyata bagi lingkungan melalui ilmu dan kompetensi yang dimiliki.
“Ketika kita gagal, jangan selalu menyalahkan faktor di luar diri kita. Pernahkah kita bertanya, apa yang kurang dari diri kita dan apa yang membuat kita tidak berhasil,” pesannya.
Nilai terakhir adalah Inovatif. Fajar mendorong alumni untuk memiliki kemampuan berpikir kreatif, kritis dan solutif dalam menghadapi berbagai persoalan. Berpikir kritis bukan sekadar menolak atau memprotes suatu keadaan, melainkan kemampuan mengidentifikasi persoalan, menemukan kekurangan dan mencari solusi.
“Sebagai sarjana, kalian sudah dibekali kemampuan berpikir kritis. Gunakan kemampuan itu untuk mencari tahu apa yang kurang, apa yang salah, kemudian mencari solusi dan melihat apa yang bisa kalian kontribusikan,” pungkasnya. (IS)








