Ning Lia: Literasi dan Integritas Menjadi Fondasi Kepemimpinan di Tengah Transformasi Digital

oleh
oleh
Anggota DPD RI asal Jatim Dr. Hj. Lia Istifhama

Surabaya, Relasijatim.com – Pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi menuntut lahirnya pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola organisasi, tetapi juga memiliki kemampuan literasi yang kuat.

Literasi dinilai menjadi modal utama dalam melahirkan keputusan yang tepat, membangun integritas, sekaligus menjawab berbagai tantangan di era digital.

Hal tersebut disampaikan Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, saat menjadi narasumber dalam Sekolah Parlemen Nasional yang diselenggarakan oleh Creative Student Home (Creshome), Kamis (2/7/2026). Forum tersebut juga menghadirkan Muhammad Khozin, Yulia Indrianingtyas, serta Founder Creshome, M. Rezky Ramadhan.

Dalam kesempatan itu, perempuan yang akrab disapa Ning Lia menegaskan, kepemimpinan sejati tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya jabatan. Seorang pemimpin diukur dari tindakan nyata, kemampuan bertanggung jawab, dan keberanian menghadirkan solusi bagi masyarakat.

“Kepemimpinan harus diwujudkan melalui aksi dan tanggung jawab,” kata Lia Istifhama.

Ia menjelaskan, pengetahuan merupakan kekuatan utama yang harus dimiliki setiap pemimpin. Mengutip ungkapan Latin scientia potentia est atau pengetahuan adalah kekuatan, Lia mengatakan, kualitas sumber daya manusia akan menentukan kemampuan bangsa menghadapi persaingan global yang semakin kompleks.

Menurutnya, terdapat empat pilar utama yang harus dimiliki seorang pemimpin. Pertama, memiliki pengetahuan yang memadai. Kedua, menjunjung tinggi nilai kejujuran. Ketiga, memiliki kompetensi sesuai bidang yang digeluti. Keempat, mampu mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan bertanggung jawab.

“Pemimpin ideal harus memiliki pengetahuan, menjunjung tinggi kejujuran, mempunyai kompetensi, serta mampu mengambil keputusan secara tepat,” katanya.

Lia juga mengingatkan, kepemimpinan selalu diawali dari kemampuan memimpin diri sendiri. Oleh sebab itu, membangun budaya belajar dan meningkatkan literasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan oleh siapa pun. Kemampuan literasi akan melahirkan karakter pemimpin yang adaptif, berpikir kritis, serta mampu membaca perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Regulasi yang baik tidak mungkin lahir tanpa kemampuan literasi yang baik pula. Karena itu, budaya membaca, memahami, dan menganalisis informasi harus terus diperkuat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Lia menyoroti pentingnya literasi digital sebagai kompetensi yang wajib dimiliki pemimpin masa kini. Perkembangan media sosial dan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, membangun opini, hingga membentuk realitas sosial.
Karena itu, pemimpin dituntut mampu memahami dinamika ruang digital, memilah informasi yang akurat, sekaligus mengantisipasi penyebaran hoaks maupun disinformasi.

“Media dan teknologi tidak hanya menjadi alat, tetapi juga membentuk realitas sosial. Karena itu, pemimpin harus memiliki kemampuan literasi digital agar mampu memahami dan mengelola arus informasi,” tegasnya. (ZL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.