Ning Lia Dorong Perhutanan Sosial Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat Desa

oleh
oleh
Anggota DPD RI, Lia Istifhama saat menghadiri Jambore Perhutanan sosial Jatim 2026

Ning Lia Dorong Perhutanan Sosial Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat Desa

Jatim, Relasijatim.com – Jambore Perhutanan Sosial Jawa Timur 2026 tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi ratusan kelompok tani hutan dari berbagai daerah. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkuat peran perhutanan sosial sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat yang tinggal di kawasan hutan.

Anggota DPD RI, Lia Istifhama mengatakan pentingnya menjaga keseimbangan antara upaya pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Keberhasilan program perhutanan sosial tidak hanya diukur dari luas kawasan hutan yang tetap terjaga, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat sekitar mampu memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

“Perhutanan sosial harus menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat. Hutan tetap lestari, sementara warga memiliki kesempatan untuk meningkatkan pendapatan, mengembangkan usaha, dan membangun kemandirian ekonomi,” kata Lia saat menghadiri Jambore Perhutanan Sosial Jawa Timur 2026.

Kegiatan yang mengusung tema “Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera” tersebut dibuka oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dan diikuti ratusan kelompok perhutanan sosial dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Dalam kesempatan itu, Ning Lia mengapresiasi berbagai produk unggulan yang dipamerkan oleh kelompok perhutanan sosial. Produk tersebut mulai dari hasil agroforestri, olahan pangan, hingga komoditas kopi yang selama ini menjadi salah satu andalan masyarakat di kawasan hutan Jawa Timur.

“Keberagaman produk yang ditampilkan menunjukkan bahwa perhutanan sosial telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus mendukung pelestarian lingkungan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai jambore tersebut menjadi sarana strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pelaku usaha, akademisi, pemerintah, hingga kelompok tani hutan dalam satu ruang kolaborasi.

“Forum seperti ini penting untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat pengelola hutan sekaligus mencari solusi yang berkelanjutan,” tegasnya. (Han)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.