Sumenep, Relasijatim.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mendorong santri, santriwati, dan alumni pondok pesantren menjadi wirausaha muda yang mandiri, kreatif, serta mampu memanfaatkan peluang ekonomi digital melalui program Wirausaha Santri.
Program yang dijalankan melalui Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) tersebut diluncurkan di Pondok Pesantren (Ponpes) Ar-Ruhama, Karduluk, beberapa hari lalu.
Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim menegaskan, program Wirausaha Santri merupakan salah satu upaya pemerintah daerah untuk mencetak generasi muda yang memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu mengembangkan usaha secara mandiri.
“Wirausaha Santri menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mencetak wirausaha muda yang mandiri, kreatif, dan mampu memanfaatkan perkembangan ekonomi digital,” kata Wabup Imam Hasyim, Sabtu (10/10/2026).
Menurutnya, santri tidak hanya diharapkan unggul dalam bidang akademik dan keagamaan, tetapi juga perlu memiliki keterampilan praktis yang dapat menjadi bekal untuk membangun usaha dan meningkatkan kesejahteraan.
“Makanya program ini tidak sekadar menjadi sarana pelatihan, tetapi juga wadah bagi santri untuk mengembangkan kreativitas, membangun keberanian berusaha, serta mengasah kemampuan membaca peluang di tengah persaingan ekonomi yang semakin ketat,” jelasnya.
Imam Hasyim juga mendorong para santri untuk mengenali potensi yang ada di lingkungan sekitar, kemudian mengembangkannya menjadi peluang usaha yang memiliki nilai ekonomi.
“Santri perlu mendapatkan kesempatan untuk mengenali potensi yang ada di lingkungan sekitar, kemudian mengolahnya menjadi gagasan usaha, dengan harapan keberadaannya memberikan dampak ekonomi bagi dirinya, keluarga, pesantren, dan masyarakat,” tuturnya.
Ia menambahkan, Pemkab Sumenep ingin mendorong perubahan pola pikir generasi muda pesantren agar tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja melalui usaha yang dikembangkan.
Dengan tumbuhnya wirausaha baru dari kalangan pesantren, diharapkan muncul efek berantai yang dapat menggerakkan perekonomian masyarakat, mulai dari terbukanya kesempatan kerja hingga berkembangnya aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar.
“Kami berharap lahirnya wirausaha muda dari kalangan pesantren dapat menciptakan efek berantai bagi masyarakat. Ketika usaha santri berkembang, peluang terbukanya lapangan kerja dan meningkatnya aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar juga semakin besar,” katanya.
Ia juga berharap program Wirausaha Santri dapat menjadi bekal bagi santri, santriwati, dan alumni pesantren untuk mengelola potensi lokal secara produktif, memanfaatkan teknologi digital, serta berkontribusi terhadap penguatan ekonomi daerah. Pengembangan kewirausahaan di lingkungan pesantren harus berjalan beriringan dengan pembentukan mental, karakter, dan kemandirian generasi muda.
“Kami berkomitmen tidak hanya membangun usahanya, tetapi juga mental dan kemandirian santri agar memiliki keterampilan dan keberanian berwirausaha, untuk membangun masa depan sekaligus memberi manfaat bagi lingkungannya,” pungkasnya. (QIN)







